Lanjut ke konten

Kenapa Sering Kesini? (Road to Malayan Peninsula)

26 Oktober 2015

Aku masih belum tahu rahasia Ilahi dibalik perjalananku ke Malaysia. Sudah lima kali pasporku diberi stempel/cap negeri Menara Kembar tersebut. Hampir kesemuanya aku lalui tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Bisa jadi aku berjodoh dengan ranah Semenanjung Malaya.

Satu-satunya kenangan di iCity

Satu-satunya kenangan di iCity

Perjalananku kali ini adalah lanjutan dari Program Edu Trip SMA Al Azhar 9 Yogyakarta, setelah sebelumnya diawali dari Singapura. Bertolak dari hotel Supreme, Orchard Road, rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Melaka. Kurang lebih 5 jam perjalanan kami dengan bus dari Singapura menuju Melaka Negeri Bersejarah. Terlihat warga Malaysia begitu terburu-buru (waktu itu pukul 21.00an) ketika di Check Point Singapura dan Check Point Malaysia diantara selat Johor. Aku sampai hari ini masih belum tahu mengapa warga negara Malaysia terlihat terburu-buru ketika di Imigrasi. Mungkinkah karena penat bekerja dan ingin segera sampai rumah? Entahlah…..

Lumayan buat terapi ketinggian

Lumayan buat terapi ketinggian

Ini di Melaka

Ini di Melaka

Numpang Nampang di UTeM

Numpang Nampang di UTeM

UNITI Kolej, Port Dickson

UNITI Kolej, Port Dickson

Mejeng sesarengan

Mejeng sesarengan

Melaka River Cruise

Melaka River Cruise

Resorts World Genting

Resorts World Genting

Melaka River Cruise

Melaka River Cruise

Lebih sering lihat ini daripada Monas. Miris.

Lebih sering lihat ini daripada Monas. Miris.

Setiap ke Malaysia kerjaan utama adalah makan!

Setiap ke Malaysia kerjaan utama adalah makan!

Kita lupakan kesibukan warga Malaysia di Check Point. Usut punya usut, kota Tua ini pernah menjadi daerah koloni Portugis, Belanda dan Inggris. Bisa dipastikan banyak bangunan khas arsitektur Eropa terdapat di kota yang termasuk World Heritage UNESCO ini. Suatu ketika, saya pernah diberi tahu oleh karib saya yang asli Melaka bahwa kuliner disana sangat sayang untuk dilewatkan, terutama menu seafood. Setelah mencoba, ternyata memang pas di lidah saya.
Anda sedang berwisata di Melaka? Maka jangan sampai terlewatkan untuk mengunjungi Melaka River Cruise. Konsepnya mirip dengan yang ada di Venice, Italia. Kita diajak menelusuri kota menggunakan boat. Bangunan di bantaran sungai dipertahankan sesuai aslinya. Ada katedral peninggalan Portugis. Ada juga kampung nelayan dari suku Bugis. Guide yang menemani kami bahkan berkata bahwa dahulu ada kampung Jawa dimana kebanyakan orang-orangnya berasal dari Semarang!
Oke, kita meluncur ke Port Dickson (PD). Kota ini terletak di pinggiran pantai Selat Malaka. Di seberang sana, pulau Sumatra terhampar. Ada kapal ferry yang setiap harinya berlayar ke Indonesia, yaitu ke Dumai. Menurutku, PD adalah kota pantai yang sepi. Atau mungkin hanya perasaanku saja karena pergi kesana ketika weekdays. Sebenarnya pantai di sepanjang Port Dickson bagus. Hanya saja kebanyakan dikuasai oleh pemilik hotel. Jadi musti menginap di salah satu hotel dulu untuk merasakan indahnya pantai di sini. Kuliner seafood di malam hari sangat recommended banget. Aku yang aslinya ndeso, alhamdulillah bisa merasakan daging ikan yang membunuh Steve Irwin (ikan pari) untuk pertama kalinya di kota ini.

UNITI Kolej, Port Dickson

UNITI Kolej, Port Dickson

Numpang Nampang di UTeM

Numpang Nampang di UTeM

Muzium

Muzium

Suasana di dalam Gondola, terapi ketinggian.

Suasana di dalam Gondola, terapi ketinggian.

Cuma ini kenanganku di iCity

Cuma ini kenanganku di iCity

Sekarang kita ke KL. Okelah, karena dulu aku pernah cerita tentang KL dan Putra Jaya, mari kita skip ceritaku di KL. Toh, KL isinya cuma pusat perbelanjaan dan Twin Towers kan? ļŠ
Aku dan rombongan berkesempatan untuk mengunjungi iCity di Shah Alam, Selangor. iCity ini seperti Taman Lampion di Monjali namun lebih luas, lebih terang, dan lebih banyak wahana untuk bermain. Namun sayang sekali, aku hanya sebatas menengok saja karena aku harus mengurusi salah satu peserta didik yang hampir pingsan (sebelum akhirnya benar-benar pingsan di hotel) karena kelelahan dan kurang makan.
Rombongan kemudian menuju ke Genting Highlands, sebuah pegunungan yang merupakan wilayah otoritas khusus. Malaysia merupakan negara Islam namun di Genting terdapat banyak Casino (tempat berjudi) yang legal namun terlarang bagi muslim Malaysia. Tujuan rombongan bukanlah untuk belajar berjudi, namun kami belajar bagaimana sebuah lokasi pegunungan disulap menjadi sebuah kota yang tertata rapi, aman, dan menjadi tempat wisata alternatif. Kami sempat menaiki gondola untuk naik dari Goh Tong Jaya menuju Resort World Genting, pergi dan balik, yang memakan waktu 20 menit untuk setiap trip-nya.
Setiap perjalanan pasti memberikan kenangan yang membekas. Setiap orang pastilah menginginkan kenangan yang indah. Bagiku, semuanya indah. Terimakasih sudah membaca.

4 Komentar leave one →
  1. azeeza permalink
    27 Oktober 2015 17:24

    Tidak sabar untuk menulis post di blog mengenai Jogja pula. Moga Allah permudahkan. Ameen.

    • 28 Oktober 2015 12:00

      Aamiin…Bismillah…semoga dipermudah Allah šŸ™‚
      Buku Rekindle your Life tu bagus, tapi masih satu part lagi sy belum selesai baca

      • azeeza permalink
        29 Oktober 2015 17:27

        Alhamduliilah moga memberi inspirasi.

      • 30 Oktober 2015 11:07

        Penulis tu doctor ke? Jadi dokter maka peluang berdakwah lebih besar…semoga keturunan sy nanti ada yang jadi dokter…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: