Lanjut ke konten

Tamasya Ke Temasek

13 Oktober 2015

Suatu ketika, di dalam sebuah bus yang sedang berjalan dari Melaka menuju Port Dickson, salah satu peserta didik bertanya kepadaku. “Pak, bagaimana ya saya harus memulai sebuah tulisan?”. Achmad Muzakki Rosidi nama lengkap peserta didik tersebut.  Aku pun menjawab dengan santai “Tulis saja apa yang ada di pikiranmu, mengalirlah.” Meski, aku sendiri sadar bahwa bicara lebih mudah ketimbang praktik. Oleh sebab itulah tulisan ini muncul.

 

Mumpung masih hangat, akan sedikit aku ceritakan tentang perjalananku ke Singapura pada tanggal 4-6 Oktober 2015. Meski ini bukan kali pertama aku ke Negeri Singa, namun setiap perjalanan pasti memiliki kesan tersendiri. Terlebih, perjalanan kali ini aku membersamai kelompok besar. Sebanyak 28 orang berpartisipasi dalam sebuah program bertajuk Edu Trip SMA Al Azhar 9 Yogyakarta.

Mari kita mulai dengan sedikit perbedaan di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Did you know? Bandara yang terletak di Timur Yogyakarta ini, sekarang memiliki terminal B yang khusus melayani rute internasional. Letaknya kurang lebih 500 m ke arah barat dari terminal utama. Sarana dan prasarana sudah oke karena tergolong bangunan baru yang dibuka pada Agustus 2015. Jadi, yang mau ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Johor Bahru lewat Adisucipto, jangan ke terminal utama ya.

Terminal B Adisucipto

Terminal B Adisucipto

Tiba di Changi

Tiba di Changi

Ketika masih bujang, aku mengelilingi Singapura dengan memanfaatkan MRT. Kebanyakan aku melihat aktivitas orang di dalam tanah. Kali ini, sejak mendarat di Changi hingga masuk Johor, aku menikmati secara lebih dekat Negara Kota di atas aspal. Perjalanan aku lakukan dengan naik bus. Ternyata memang benar apa kata orang, di negeri ini jalanan tidaklah seramai Jogja, apalagi Jakarta. Lengang dan antimacet!

Tujuan pertama setelah keluar Changi adalah NeWater Visitor Center, sebuah tempat dimana air kotor atau air limbah di Singapura diolah menjadi air minum yang tentu saja bersih dan berstandar WHO. Bayangkan! Air limbah dari penjuru Singapura di tampung dan dialirkan melalui DTSS (Deep Tunnel Sewerage System) untuk kemudian diolah dan dipurifikasi dengan teknologi tinggi menjadi layak konsumsi oleh NeWater ini. Apa kabar Indonesia yang punya SDM dan SDA melimpah? Pe-eR nih buat generasi muda Indonesia.

NeWater Visitor Center

NeWater Visitor Center

Sekarang kita beranjak ke pulau hasil reklamasi yang paling nge-hits minimal se-Asia Tenggara. Sentosa Island. Tempat dimana orang menghabiskan sebagian besar masa liburannya di Singapura. Ada tiga spot utama di Pulau Sentosa. Imbiah Lookout dengan taman kupu-kupunya, Siloso Beach dengan pantai yang tenang untuk berjemur, dan Resort World Sentosa dimana Universal Studios Singapore (USS) berada. Ketiga tempat utama tersebut pernah aku kunjungi sebelumnya, namun ketika itu hanya sekedar foto-foto saja alias cari yang gratis.

Alhamdulillah pada kesempatan kali ini, aku bisa merasakan masuk USS dan menikmati beberapa wahana yang ada di dalamnya. FYI, harga tiket masuk USS adalah sebesar 65 SGD. Kenapa tidak semua wahana? Terbatasnya waktu menjadi kendala utama. Bayangkan saja, untuk antre satu wahana minimal 60 menit, bahkan ada yang harus sabar menunggu hingga lebih dari 120 menit. Wahana dengan karakteristik adrenaline rush adalah yang paling banyak diminati. Aku sempat mencoba roller coaster. Wahana ini memang warbyasa!! Antre hingga 150 menit dan hanya 1 menit saja durasinya, sudah membuat sekujur tubuh kaku dan seperti mau copot jantungnya. Terimakasih kepada mas Ando yang sudah sudi menjaga tas saya hingga hampir 3 jam.

Salah Satu Wahana di USS

Salah Satu Wahana di USS

Teknologi menjadi jualan utama wisata di Singapura. Kecilnya wilayah, terbatasnya sumber daya alam, dan sedikitnya keanekaragaman budaya adalah kelemahan sekaligus kelebihan Singapura. USS adalah salah satu contoh wisata berbasis teknologi tinggi yang menjadi ikon wisata Negeri Singa. Selain USS, ada satu lagi wisata berbasis teknologi yang sayang untuk dilewatkan di Singapura. Wings of Time! Perpaduan antara atraksi, air mancur, lampu LED, pinggir pantai, kembang api, dan malam yang syahdu adalah senjata utama menarik perhatian wisatawan di Siloso Beach, Sentosa Island. Bagaimana tidak? Hanya dalam hitungan 40 menit sekali pentas, show yang dibanderol 18 SGD ini selalu full seated.

Latar Wings of Time, Siloso Beach

Latar Wings of Time, Siloso Beach

Indonesia memang lebih dulu merdeka. Indonesia memang lebih kaya SDA dan SDM. Akan tetapi, kita harus banyak belajar dari negera yang ukurannya tak lebih dari jarak Jogja – Magelang (dari sisi Timur ke Barat Singapura, 40 km) dan tak lebih dari jarak Jogja – Wates (dari sisi Selatan ke Utara Singapura, 23 km). Majulah Singapura. Hiduplah Indonesia Raya!

Menulislah dan terus tertawa

2 Komentar leave one →
  1. azeeza permalink
    16 Oktober 2015 10:04

    Setelah sekian lama. Nice entry.

    • 16 Oktober 2015 13:20

      Hehehe….alhamdulillah boleh menulis lagi…berbagi pengalaman…masih menunggu juga untuk membaca artikel baru hidrogenbond :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: