Skip to content

Fieldtrip Dieng

25 Juni 2016

Sebulan yang lalu, aku berkesempatan lagi untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Sudah yang ketiga kalinya aku kesana. Pertama, ketika menjelang idul adha 2009. Saat itu aku belum tahu kalau akan berjodoh dengan Putri Cantik dari Banjarnegara. Kali kedua ketika sayangku sedang mengandung Ifa.
Pada dua kesempatan itu, hanya sehari saja aku di Dieng. Tanpa menginap. Kali ketiga kesana, karena satu rombongan dengan murid-murid dan guru-gurunya yang kece, kami menginap di Homestay Nusa Indah.
Aku pikir gak bakalan seru karena ini ketiga kalinya menginjakkan di kampung tertinggi di Pulau Jawa. Tiga kali kesana pasti suasana sama saja. Tapi aku lupa akan satu hal. Bahwa setiap perjalanan, pastilah memiliki kesan yang berbeda.
Ternyata aku keliru. Aku pikir gak seru. Kenyataannya tidaklah demikian. Asyik sekali bersama anak-anak. Apalagi ketika melihat sahabatku, sebut saja pak Latif, bercanda dengan anak-anak. Siapa kentut? Si Pak Latif. Begitu kata anak-anak ketika melewati kawah berbau belerang yang banyak kita jumpai di Dieng.
Untuk tempat-tempat yang kita kunjungi, standar seperti kebanyakan orang yang sedang wisata ke Dieng. Candi Arjuna, Dieng Theatre, Kawah Sikidang, dan Bukit Sikunir. Ketika pulang, sempat pula mengunjungi kebun teh Tambi, Wonosobo.

image

Sudah ada sejak zaman Belanda

image

Diberi nama Sikidang karena kawahnya pindah-pindah kayak Kijang

image

Cakep banget

image

image

Apa Yang Kamu Takutkan?

23 April 2016

Setiap orang pasti pernah memiliki rasa takut. Bahkan mungkin masih takut dengan suatu hal. Hingga saat ini.
Secara bijak, Islam mengajarkan rasa takut kita hanya kepada Allah. Takut meninggalkan kewajiban kita kepada-Nya. Takut berbuat dosa. Serta semua jenis ketakutan yang menghalangi kita dari Allah.
Namun, tidak semua orang langsung menuju tingkatan takut kepada Yang Maha Lembut. Adakalanya seseorang merasa takut sendirian. Merasa takut keheningan. Merasa takut bertemu begal.
Phobia. Orang barat menyebut ketakutan sebagai phobia. Takut ketinggian. Takut kedalaman. Sejuta takut, sejuta phobia.
Alhamdulillah, sudah beberapa kali sy ikut rafting. Alhamdulillah ternyata sy tidak takut menyusuri sungai. Melewati jeram. Melihat biawak.
Tadi pagi, sy berkesempatan mengantar murid anggota PCAALMON untuk latihan rafting di Sungai Elo. Awal mula, mereka tidak menunjukkan rasa takut. Lama-kelamaan, semakin banyak jeram dan Kedung yang kami lewati, rasa was-was mulai menghinggapi para pengarung pemula ini.
Nura. Adalah Nura, yang ketakutannya melebihi ketakutan peserta lainnya. Kami ajak gojek saja dia. Malah justru semakin ketakutan. Ketika melewati sebuah Kedung, kami balik kapal kami hingga semua jatuh ke sungai. Nura semakin takut.
Satu persatu mulai naik kembali ke perahu karet. Nura belum juga rileks. Matanya nanar. Tidak percaya bahwa ia baru saja mengalakan rasa takutnya. Tidak kah Ia buang air kecil karena takutnya? Entahlah….

image

Rafting

Pendakian Perdana PCA Almon

18 Februari 2016

Yeah!

Akhirnya hasratku tersalurkan juga. Sudah lama tidak merasakan bahagianya hiking, kemarin Sabtu-Ahad 13-14 Februari 2016 berkesempatan untuk naik (lagi) dan nge-camp di Gunung Andong. Gunung yang lagi kekinian banget buat anak-anak muda. Gak gaul kalo belum naik Andong. Kata mereka.

 

Sebenernya dulu sudah pernah. Sebenernya berat juga buat ninggalin Ifa. Dan masih banyak sebenernya-sebenernya lagi. Tapi ya sudahlah, namanya juga hobi. Ehehehe. Maaf ya ummu ifa❤

Oke, jangan kaget juga kalo anak-anak PCA Almon yang ikut naik semuanya perempuan. Ada satu laki-laki, tapi mendadak dangdut gak bisa ikut. Untung masih ada mas Rizki yang bantu mendampingi anak-anak.

Gunung Andong sebenernya “hanya” 1726 mdpl. Tapi sensasi mendakinya itu yang wah wah wah. Watu Pocong. Mata Air. Kuburan. Jembatan Setan. Aih, lengkap bro! Apalagi sunrise-nya. Allahuakbar!!!! Indah banget…..

Fisik memang gak bisa dibohongi. Awal-awal naik kok udah keringat dingin aja. Tapi setelah beberapa menit berlalu, akhirnya bahagia juga.

Keep it clean!

Jangan pernah meremehkan ketinggian suatu gunung!

Ode Untuk Guru

25 November 2015
IMG-20150730-WA0006

di depan kelasku

engkau berdiri

bercerita kepada kami

tentang jati diri

 

di depan kelasku

jari-jemarimu menari

melukiskan kisah tragedi

juga yang happy-happy

 

di depan kelasku

kau ajarkan kami cinta

kau hadirkan kasih sayang

kau berikan kami rasa

 

di bangku kelasku

aku terduduk

aku mendengarkan

cerita kanan-kiriku

 

di bangku kelasku

aku membaca

bukan buku kimia

bukan pula kitab agama

 

di bangku kelasku

aku asyik sendiri

hadirmu tak kupeduli

pergimu tak kusesali

 

meski begitu

di hatimu selalu ada kami

engkaulah Sang Penerus Nabi

jasamu akan abadi

 

teacher

guru

cikgu

ustadz

terimakasihku untukmu

 

Sleman, 25 November 2015.

Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada”. (H.R Abu Daud dan Turmizi)

Hidupkan Kembali Hidupmu!

2 November 2015

Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah dengan semua nikmatNya. Salah satu nikmatNya kepadaku adalah kesempatan untuk kembali ke ranah Semenanjung Malaysia. Disana, alhamdulillah aku dipertemukan kembali dengan salah satu sahabat terbaikku. Terlebih lagi, dia memberikan hadiah sebuah buku yang sangat-sangat bagus. Rekindle Your Life!
Baca selanjutnya…

Gempita Berpetualang

30 Oktober 2015

Tahun pelajaran 2015-2016 ini aku diamanahi untuk mengawal ekstrakurikuler Pecinta Alam. Sebenernya aku belum punya basic kepecintaalaman di dunia mahasiswa dulu. Hanya, kalau secara harfiah ya aku memang cinta alam.  Ditambah lagi, kalau urusan berpetualang dan terjun ke lapangan, aku memang punya minat lebih di bidang itu.
Baca selanjutnya…

Kenapa Sering Kesini? (Road to Malayan Peninsula)

26 Oktober 2015

Aku masih belum tahu rahasia Ilahi dibalik perjalananku ke Malaysia. Sudah lima kali pasporku diberi stempel/cap negeri Menara Kembar tersebut. Hampir kesemuanya aku lalui tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Bisa jadi aku berjodoh dengan ranah Semenanjung Malaya.
Baca selanjutnya…