Skip to content

Scheveningen van Java

16 Mei 2017

Beberapa waktu yang lalu, sebuah BUMN sebut saja PLN menawari sekolah dimana aku mengajar  untuk mensponsori kunjungan ke PLTU Tanjungjati B, Jepara. Penawaran yang sungguh menggiurkan dan amat sayang apabila ditolak. Alhasil, dewan guru segera membentuk panitia pelaksana dengan sasaran kelas XI MIPA dan IPS. Seperti kebanyakan kepanitiaan sepanjang tahun ini, kembali aku ditunjuk menjadi sie acara.

 
Baca selanjutnya…

Iklan

Gur Piknik

18 Januari 2017

Bayangkan kamu punya libur 2 pekan. Kamu sangat ingin menjadi menikmati suasana liburan itu bersama orang-orang terkasih. Lalu ketika kamu sedang menikmati masa-masa liburan itu, kamu masih memiliki sepekan waktu tersisa, namun ada panggilan tugas alias harus masuk kerja sebelum waktu liburan mu berakhir? Aihhhh……

Alhamdulillah, pekerjaan ku sebagai pendidik membuat ku dapat jatah libur yang sebenarnya lumayan lama tiap semester nya. Seperti akhir semester ini, selama 2 pekan di akhir & awal tahun aku dapat jatah libur. Aku manfaatkan libur ini untuk bersama-sama mengajak istri dan anak mudik ke Banjarnegara.

Namun, inilah keasyikannya jadi seorang guru. Swasta lagi. Hehehe. Ketika liburan sedang seru-serunya berjalan satu pekan, aku harus merelakan satu pekan berikutnya untuk segera balik ke sekolah. Piket lah, rapat lah, dan…. Menemani murid-murid kelas X Fieldtrip.

Teman saya, mas Bowo namanya, lebih memilih untuk tetap berlibur bersama keluarga. Ketika “dipaksa” untuk tetap ikut fieldtrip, beliau berkata, “Ah gur piknik kok”. Sebuah jawaban yang bisa lucu, bisa pula menohok.

Lucu jika dimaknai sebagai: wong enak-enak diajak pergi bareng teman-teman & murid-murid kok malah gak mau ikut. Menohok dengan telak hati nurani bapak-bapak yang sudah berkeluarga seperti aku jika dimaknai: ini kan masih waktunya liburan, bolehlah kalau kita habiskan masa bersama keluarga tercinta. Satu semester kan kita sudah menghabiskan waktu di sekolah, hingga lupa untuk bercengkrama dengan anak istri.

Terlepas dari kedua argumen diatas, aku tetap ikut mendampingi murid-murid pada pelaksanaan fieldtrip kali ini. Gak tau kenapa kok aku didapuk sebagai sie acara. Padahal kan aku masih minim buat ngonsep acara. Apalagi macam acara plesir. 😁

Kami berkesempatan untuk melaksanakan kunjungan ke B2P2T2OOT, Tawangmangu. Entahlah apa kepanjangan dari Balai tersebut. Satu yang pasti, balai ini bergerak di bidang tanaman obat. Mulai dari pembibitan hingga produk akhir berupa obat, ada di B2P2T2OOT Tawangmangu.

Ini kunjungan kedua saya kesana. Dulu ketika masih kuliah S2 (yang hampir saja aku kena DO, lain kali insyaallah aku ceritakan hal ini 😂😂😂), aku pernah kesana bersama rekan-rekan kimia organik UGM. Jadi sudah tidak asing dengan tempat ini. Lumayan bisa jadi pemandu bagi murid-murid karena sudah tahu medan.

Habis lihat-lihat jamu, kita menuju ke Grojogan Sewu, Tawangmangu, Karanganyar. Seingatku, ini juga bukan pertama kali aku kesini. Dulu sekali, aku kesini sama Bapak pake acara mabok naik bis.

Perjalanan lanjut ke Telaga Sarangan. Ini yang bikin dag dig dug. Sepanjang jalan menaiki gunung Lawu. Hampir-hampir bis nya gak kuat. Allahuakbar deh! Kita lewat jalan raya tertinggi di Jawa, kalau gak salah. Jalur Cemara Sewu, Cemara Kandang (silakan baca cerita ku mendaki Gunung Lawu), jalanan yang tertutup kabut dan jurang di sisi kanan kiri.

Pada akhirnya, terpampang juga keindahan alam ciptaan Allah. Telaga yang berada di atas ketinggian telah nampak. Dingin nya air. Sejuknya udara. Suasana terlengkapi dengan suara langkah kaki kuda serta raungan mesin diesel speed boat. Tidak terasa ini semua “gur piknik”.


Dilemma is when you stand on 2 choices.

DBD

13 Desember 2016

Sekira hari Rabu di akhir November 2016 aku merasakan demam. Badan nggregesi, pusing, makan pun takenak. Aku pikir ini cuma demam biasa.

Aku masih melaksanakan tugas harian, datang ke sekolah, masuk ke kelas. Hanya kuat setengah hari. Sebakda sholat dhuhur, aku memohon izin untuk pulang.

Sesampai di rumah, istriku yang sholihah sudah menunggu dengan mempersiapkan tempurangin. Semacam tolak angin yang dicampur teh panas. Berkali-kali aku meminumnya.

Tanpa ada perubahan, hari kedua aku masih merasakan hal yang sama. Kamis, awal Desember 2016. Pusing, tidur taknyenyak. Namun aku berharap hari ini kan sembuh. Aku masih melakukan rutinitas yang sama, mengajar. Apa daya, setengah hari saja aku kuat menjalani kegiatan di sekolah. Aku kembali izin setelah sholat dhuhur, kali ini aku pergi menemui dokter.

Dokter Nurul dari GMC bilang jika 4 hari (sampai hari ahad), tidak ada perubahan, maka aku harus cek darah ke Pramita Lab. Aku optimis sembuh dari demam, karena Jumat sore aku tugas ke Jakarta.

Jumat pagi aku izin tidak masuk sekolah. Aku ingin sehat ketika sore hari berangkat ke Jakarta. Apa daya, makan tak enak. Mual dan muntah. Tongseng kambing pun tiada terasa.

Jumat sore aku tetap berangkat ke Jakarta. Aku naik kereta Senja Utama Yogyakarta bersama kelima rekan kerjaku. Aku bilang baik-baik saja ke rekan-rekan ku. Self healing.

Sabtu pagi, sesampainya di Jakarta, aku ikuti alur hidupku di hari itu. Badanku semakin tidak karuan saja. Aku pun izin ke panitia bahwa aku tidak bisa full konsentrasi. Demamku kian parah.

Aku ceritakan kondisiku ke ustadz Ageng. Menurut beliau, gejala tipes sedang menyerang diriku. Baiklah, aku mulai Googling tentang tipes. Hampir tepat sama gejala-gejala nya dengan yang aku rasakan.

Malam Ahad pun kami pulang ke Yogyakarta. Di dalam kereta, aku merasa mual dan ingin muntah. Namun hanya angin saja yang keluar dari tubuhku. Kosong. Sebab aku takbisa makan seharian.

Ahad pagi, kram perut melandaku ketika perjalanan dari stasiun Tugu ke rumah. Motoran. Aku paksakan untuk terus berkendara, kembali ke rumah. Bagaimana pun, rumah adalah tempat terindah untuk kembali.

Sesampainya di rumah, aku ceritakan kondisiku kepada Ummu Ifa terkasih. Maka kami putuskan untuk segera cek darah ke lab. Hasil lab keluar secepat kereta malam. Aku terdiagnosis kritis trombosit. Baku mutu trombosit minimal 150.000 aku lupa satuannya, punyaku cuma 20.000. Aku putuskan untuk segera ke IGD. RS Akademik UGM yang aku pilih.

Sesampainya di IGD, kembali aku di cek darahnya. Trombosit ku justru semakin menurun, tinggal 17.000. How fast you down, oh my trombosites?

Keputusannya adalah rawat inap dengan diagnosis DBD (dengue fever). Ini pertama kalinya aku rawat inap. Pertama kalinya aku diinfus. Semoga pertama dan terakhir!

Tidak terlalu mengagetkan ketika aku divonis DBD. Sekitar sebulan lalu, tetangga rumah ada yang terserang DBD juga, 4 orang, sekeluarga, satu meninggal. Sudah ada fogging juga di kampung kami, dua kali. Alhamdulillah aku masih diberikan kesempatan untuk bernafas!

Hal yang membuat aku tidak tahan rawat inap adalah karena aku gak boleh sikat gigi. Bisa dibayangkan betapa gak nyamannya mulutku ini. Hehe.

Hal yang membuat aku cepat pulih, dengan seizin Allah, adalah betapa rajinnya istriku untuk mengirimi aku minuman angkak. Entahlah itu minuman apa, yang pasti bisa didapatkan di Mirota Kampus. Selain itu juga jus jambu biji & sari kurma selalu aku konsumsi di sela-sela minum obat di RS.

Alhamdulillah hanya cukup 3 hari 3 malam diri ini terpenjara selaku tersangka DBD di RS. Pengalaman berharga untuk keluarga kecil ku. Aku harap, teman-teman senantiasa sehat.

Oh iya, untuk beberapa waktu aku tidak bisa donor darah. Maaf!

Fieldtrip Dieng

25 Juni 2016

Sebulan yang lalu, aku berkesempatan lagi untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Sudah yang ketiga kalinya aku kesana. Pertama, ketika menjelang idul adha 2009. Saat itu aku belum tahu kalau akan berjodoh dengan Putri Cantik dari Banjarnegara. Kali kedua ketika sayangku sedang mengandung Ifa.
Pada dua kesempatan itu, hanya sehari saja aku di Dieng. Tanpa menginap. Kali ketiga kesana, karena satu rombongan dengan murid-murid dan guru-gurunya yang kece, kami menginap di Homestay Nusa Indah.
Aku pikir gak bakalan seru karena ini ketiga kalinya menginjakkan di kampung tertinggi di Pulau Jawa. Tiga kali kesana pasti suasana sama saja. Tapi aku lupa akan satu hal. Bahwa setiap perjalanan, pastilah memiliki kesan yang berbeda.
Ternyata aku keliru. Aku pikir gak seru. Kenyataannya tidaklah demikian. Asyik sekali bersama anak-anak. Apalagi ketika melihat sahabatku, sebut saja pak Latif, bercanda dengan anak-anak. Siapa kentut? Si Pak Latif. Begitu kata anak-anak ketika melewati kawah berbau belerang yang banyak kita jumpai di Dieng.
Untuk tempat-tempat yang kita kunjungi, standar seperti kebanyakan orang yang sedang wisata ke Dieng. Candi Arjuna, Dieng Theatre, Kawah Sikidang, dan Bukit Sikunir. Ketika pulang, sempat pula mengunjungi kebun teh Tambi, Wonosobo.

image

Sudah ada sejak zaman Belanda

image

Diberi nama Sikidang karena kawahnya pindah-pindah kayak Kijang

image

Cakep banget

image

image

Apa Yang Kamu Takutkan?

23 April 2016

Setiap orang pasti pernah memiliki rasa takut. Bahkan mungkin masih takut dengan suatu hal. Hingga saat ini.
Secara bijak, Islam mengajarkan rasa takut kita hanya kepada Allah. Takut meninggalkan kewajiban kita kepada-Nya. Takut berbuat dosa. Serta semua jenis ketakutan yang menghalangi kita dari Allah.
Namun, tidak semua orang langsung menuju tingkatan takut kepada Yang Maha Lembut. Adakalanya seseorang merasa takut sendirian. Merasa takut keheningan. Merasa takut bertemu begal.
Phobia. Orang barat menyebut ketakutan sebagai phobia. Takut ketinggian. Takut kedalaman. Sejuta takut, sejuta phobia.
Alhamdulillah, sudah beberapa kali sy ikut rafting. Alhamdulillah ternyata sy tidak takut menyusuri sungai. Melewati jeram. Melihat biawak.
Tadi pagi, sy berkesempatan mengantar murid anggota PCAALMON untuk latihan rafting di Sungai Elo. Awal mula, mereka tidak menunjukkan rasa takut. Lama-kelamaan, semakin banyak jeram dan Kedung yang kami lewati, rasa was-was mulai menghinggapi para pengarung pemula ini.
Nura. Adalah Nura, yang ketakutannya melebihi ketakutan peserta lainnya. Kami ajak gojek saja dia. Malah justru semakin ketakutan. Ketika melewati sebuah Kedung, kami balik kapal kami hingga semua jatuh ke sungai. Nura semakin takut.
Satu persatu mulai naik kembali ke perahu karet. Nura belum juga rileks. Matanya nanar. Tidak percaya bahwa ia baru saja mengalakan rasa takutnya. Tidak kah Ia buang air kecil karena takutnya? Entahlah….

image

Rafting

Pendakian Perdana PCA Almon

18 Februari 2016

Yeah!

Akhirnya hasratku tersalurkan juga. Sudah lama tidak merasakan bahagianya hiking, kemarin Sabtu-Ahad 13-14 Februari 2016 berkesempatan untuk naik (lagi) dan nge-camp di Gunung Andong. Gunung yang lagi kekinian banget buat anak-anak muda. Gak gaul kalo belum naik Andong. Kata mereka.

 

Sebenernya dulu sudah pernah. Sebenernya berat juga buat ninggalin Ifa. Dan masih banyak sebenernya-sebenernya lagi. Tapi ya sudahlah, namanya juga hobi. Ehehehe. Maaf ya ummu ifa ❤

Oke, jangan kaget juga kalo anak-anak PCA Almon yang ikut naik semuanya perempuan. Ada satu laki-laki, tapi mendadak dangdut gak bisa ikut. Untung masih ada mas Rizki yang bantu mendampingi anak-anak.

Gunung Andong sebenernya “hanya” 1726 mdpl. Tapi sensasi mendakinya itu yang wah wah wah. Watu Pocong. Mata Air. Kuburan. Jembatan Setan. Aih, lengkap bro! Apalagi sunrise-nya. Allahuakbar!!!! Indah banget…..

Fisik memang gak bisa dibohongi. Awal-awal naik kok udah keringat dingin aja. Tapi setelah beberapa menit berlalu, akhirnya bahagia juga.

Keep it clean!

Jangan pernah meremehkan ketinggian suatu gunung!

Ode Untuk Guru

25 November 2015

di depan kelasku

engkau berdiri

bercerita kepada kami

tentang jati diri

 

di depan kelasku

jari-jemarimu menari

melukiskan kisah tragedi

juga yang happy-happy

 

di depan kelasku

kau ajarkan kami cinta

kau hadirkan kasih sayang

kau berikan kami rasa

 

di bangku kelasku

aku terduduk

aku mendengarkan

cerita kanan-kiriku

 

di bangku kelasku

aku membaca

bukan buku kimia

bukan pula kitab agama

 

di bangku kelasku

aku asyik sendiri

hadirmu tak kupeduli

pergimu tak kusesali

 

meski begitu

di hatimu selalu ada kami

engkaulah Sang Penerus Nabi

jasamu akan abadi

 

teacher

guru

cikgu

ustadz

terimakasihku untukmu

 

Sleman, 25 November 2015.

Tinta para ulama lebih tinggi nilainya daripada darah para shuhada”. (H.R Abu Daud dan Turmizi)